Mengukur Efisiensi Produksi Peternakan untuk Mengontrol Biaya/Unit

Biaya Produksi Naik, Tapi Penyebabnya Tidak Jelas?

Dalam bisnis peternakan, kenaikan biaya produksi tidak selalu langsung terlihat sebagai masalah besar. Harga pakan naik sedikit. Biaya obat dan vitamin bertambah. Tenaga kerja meningkat. bebab listrik, transportasi, perawatan kandang, hingga penyusutan peralatan juga terus berjalan.

Masing-masing terlihat kecil jika dilihat satu per satu.

Masalahnya, ketika semua biaya tersebut dikumpulkan, modal untuk menghasilkan satu unit ternak bisa terus meningkat tanpa disadari.

Akibatnya, omzet mungkin tetap tinggi, tetapi keuntungan semakin tipis.

Pemilik peternakan akhirnya menghadapi pertanyaan penting:

“Sebenarnya berapa biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu ekor atau satu unit produk peternakan?”

Jika angka tersebut tidak diketahui dengan jelas, efisiensi produksi akan sulit diukur.


Apa yang Dimaksud Efisiensi Produksi Peternakan?

Efisiensi produksi peternakan adalah kemampuan menghasilkan output dengan penggunaan sumber daya dan modal yang optimal.

Outputnya bisa berbeda tergantung jenis usaha, misalnya:

  • Jumlah ayam yang berhasil dipanen
  • Jumlah telur yang dihasilkan
  • Bobot atau kilogram ternak yang terjual
  • Jumlah sapi atau kambing yang siap dijual
  • Jumlah bibit yang berhasil diproduksi

Sementara input yang digunakan dapat meliputi:

  • Pakan
  • Obat dan vitamin
  • Tenaga kerja
  • Listrik dan air
  • Perawatan kandang
  • Transportasi
  • Penyusutan aset
  • Biaya operasional lainnya

Artinya, efisiensi bukan sekadar mengurangi biaya.

Mengurangi pakan secara berlebihan misalnya, belum tentu membuat bisnis lebih efisien jika pertumbuhan ternak atau hasil produksi justru menurun.

Yang perlu dicari adalah keseimbangan antara biaya yang dikeluarkan dan hasil produksi yang diperoleh.


Mengapa Biaya per Unit Penting untuk Peternakan?

Salah satu indikator yang mudah digunakan untuk mengukur efisiensi adalah biaya per unit.

Secara sederhana:

modal per Unit = Total modal Produksi ÷ Jumlah Output

Contohnya, sebuah peternakan mengeluarkan total modal produksi Rp100 juta untuk menghasilkan 10.000 unit output.

Maka:

Rp100 juta ÷ 10.000 unit = Rp10.000 per unit

Jika bulan berikutnya modal produksi menjadi Rp115 juta sementara output hanya 10.000 unit, beban per unit naik menjadi:

Rp115 juta ÷ 10.000 unit = Rp11.500 per unit

Ada kenaikan Rp1.500 per unit.

Jika tidak dipantau, kenaikan tersebut dapat mengurangi margin keuntungan secara signifikan ketika volume produksinya besar.

Karena itu, jangan hanya melihat total biaya.

Lihat juga modal per unit dan perubahan dari periode ke periode.


Apa Saja yang Membuat Biaya Produksi Peternakan Naik?

Sebelum melakukan penghematan, pemilik usaha perlu mengetahui sumber kenaikannya.

1. Biaya Pakan Meningkat

Pakan biasanya menjadi salah satu komponen yang perlu mendapat perhatian serius.

Kenaikan harga pakan memang sulit dikendalikan sepenuhnya. Namun, penggunaan yang tidak efisien, pemborosan, atau pencatatan stok yang tidak akurat dapat membuat modal semakin besar.

Karena itu, pembelian dan pemakaian pakan perlu dicatat serta dibandingkan dengan hasil produksi.

2. Penggunaan Obat dan Vitamin Tidak Terukur

Obat, vitamin, vaksin, dan perlengkapan kesehatan ternak juga menjadi bagian dari biaya produksi.

Jika penggunaannya tidak dicatat dengan baik, pemilik akan kesulitan mengetahui berapa biaya kesehatan yang sebenarnya dikeluarkan untuk setiap periode produksi.

3. Biaya Operasional Kandang

Listrik, air, bahan bakar, perawatan kandang, perbaikan peralatan, dan kebutuhan operasional lainnya sering dianggap sebagai modal biasa.

Padahal jika dikumpulkan setiap bulan, nilainya dapat cukup besar.

4. Tingkat Produksi Tidak Sesuai Target

Masalah bukan hanya ketika biaya naik.

modal per unit juga bisa meningkat ketika output turun sementara beban tetap berjalan.

Misalnya modal operasional tetap Rp50 juta, tetapi jumlah produksi turun dari 10.000 unit menjadi 8.000 unit.

Maka modal per unit otomatis meningkat.

Inilah mengapa efisiensi harus melihat biaya sekaligus hasil produksi.


Cara Mengukur Efisiensi Biaya Produksi Peternakan

Agar lebih mudah diterapkan, gunakan beberapa indikator berikut.

1. Hitung Total Biaya Produksi

Kelompokkan seluruh biaya yang berhubungan dengan proses produksi.

Contohnya:

  • Pakan
  • Obat dan vitamin
  • Tenaga kerja
  • Listrik dan air
  • Perawatan
  • Transportasi
  • Penyusutan
  • Biaya produksi lainnya

Jangan terlalu banyak menggunakan kategori “lain-lain”.

Semakin detail biaya dikelompokkan, semakin mudah menemukan sumber pemborosan.

2. Hitung Biaya per Unit

Setelah total modal diketahui, bagi dengan jumlah output.

Gunakan hasil tersebut sebagai angka pembanding.

Contohnya:

Periode Total Biaya Output Biaya/Unit
Januari Rp100 juta 10.000 Rp10.000
Februari Rp105 juta 10.000 Rp10.500
Maret Rp115 juta 10.000 Rp11.500

Dari data tersebut terlihat bahwa modal per unit terus meningkat. Pertanyaan berikutnya adalah:

“Apa yang menyebabkan kenaikan tersebut?”

Di sinilah pencatatan yang rapi menjadi sangat penting.

3. Bandingkan Modal dengan Output

Jangan hanya membandingkan modal bulan ini dengan bulan lalu.

Bandingkan juga dengan jumlah produksi.

Misalnya modal meningkat 5%, tetapi produksi meningkat 15%.

Kondisi tersebut berbeda dengan modal meningkat 5% sementara produksi justru turun 10%.

Dengan melihat kedua angka tersebut secara bersamaan, evaluasi efisiensi menjadi lebih objektif.

4. Pantau Biaya Terbesar

Identifikasi tiga sampai lima komponen biaya terbesar.

Misalnya:

  • Pakan: 55%
  • Tenaga kerja: 15%
  • Obat dan vitamin: 10%
  • Operasional kandang: 8%
  • Transportasi: 5%

Jika pakan menjadi komponen terbesar, maka evaluasi efisiensi sebaiknya dimulai dari penggunaan dan pembelian pakan.

Jangan membuang waktu menghemat modal kecil sementara yang terbesar tidak pernah dievaluasi.


Masalah Jika Pencatatan Masih Menggunakan Excel atau Buku

Pencatatan manual mungkin masih cukup ketika transaksi sedikit.

Namun ketika peternakan berkembang, jumlah pembelian, stok, modal, penjualan, piutang, dan transaksi lainnya juga semakin banyak.

Beberapa masalah yang sering muncul:

  • Data transaksi tersebar di beberapa file
  • Stok sulit dicocokkan dengan kondisi sebenarnya
  • modal produksi tidak tercatat lengkap
  • Perhitungan modal per unit dilakukan manual
  • Laporan membutuhkan waktu lama
  • Owner harus menunggu staf membuat rekap
  • Sulit membandingkan biaya antarperiode
  • Kesalahan input baru diketahui
  • ketika laporan sudah dibuat

Akibatnya, keputusan bisnis sering dibuat berdasarkan perkiraan.

Padahal dalam bisnis peternakan, selisih yang terlihat kecil bisa berdampak besar jika terjadi terus-menerus.


Bagaimana Zahir Membantu Mengontrol Biaya Peternakan?

Zahir accounting dapat membantu peternakan mengelola pencatatan transaksi, pembelian, penjualan, persediaan, hutang-piutang, serta laporan keuangan dalam sistem yang lebih terstruktur.

Data tersebut dapat digunakan untuk membantu pemilik melihat kondisi bisnis secara lebih menyeluruh.

Misalnya, pembelian pakan tidak hanya dicatat sebagai transaksi pembelian.

Data tersebut dapat menjadi bagian dari informasi biaya dan persediaan yang kemudian dibandingkan dengan hasil produksi serta penjualan.

Dengan sistem pencatatan yang lebih terintegrasi, pemilik tidak perlu mengumpulkan data dari banyak catatan untuk mengetahui kondisi keuangan bisnis.

Zahir juga memiliki dukungan untuk pengelolaan persediaan, produksi, HPP, kas dan bank, serta laporan keuangan, sehingga dapat digunakan sebagai bagian dari sistem pengendalian bisnis yang membutuhkan pencatatan produksi dan keuangan secara lebih terstruktur.

Baca artikel : omzet peternakan meningkat tapi laba sulit dilacak


Contoh Evaluasi Biaya Peternakan dengan Data

Misalnya sebuah peternakan memiliki data:

Bulan Januari

  • Total biaya produksi: Rp100 juta
  • Output: 10.000 unit
  • harga per unit: Rp10.000
  • Harga jual rata-rata: Rp13.000

Bulan Februari

  • Total biaya produksi: Rp110 juta
  • Output: 9.500 unit
  • harga per unit: sekitar Rp11.579
  • Harga jual rata-rata: Rp13.000

Sekilas, kenaikan biaya hanya Rp10 juta.

Namun setelah dihitung berdasarkan output, modal per unit meningkat cukup besar.

Artinya, pemilik perlu mencari penyebabnya.

Apakah harga pakan meningkat?

Apakah penggunaan pakan lebih tinggi?

Apakah ada kenaikan biaya tenaga kerja?

Apakah produksi menurun?

Apakah terdapat pemborosan atau stok yang tidak tercatat?

Tanpa data yang rapi, pertanyaan tersebut sulit dijawab.

Dengan pencatatan yang terstruktur, data modal, persediaan, pembelian, penjualan, dan laporan keuangan dapat digunakan sebagai dasar evaluasi.


Jangan Hanya Mengejar Omzet, Ukur Biaya per Unit

Peternakan dengan omzet besar belum tentu memiliki efisiensi yang baik.

Yang perlu diperhatikan adalah hubungan antara:

Biaya → Produksi → Harga Pokok → Harga Jual → Margin

Jika modal per unit terus naik sementara harga jual sulit dinaikkan, margin akan semakin tertekan.

Karena itu, pemilik peternakan sebaiknya memiliki kebiasaan melakukan evaluasi secara rutin.

Minimal setiap bulan, tanyakan:

  1. Berapa total biaya produksi bulan ini?
  2. Berapa jumlah output yang dihasilkan?
  3. Berapa biaya per unit?
  4. Komponen harga apa yang paling besar?
  5. Mengapa modal tersebut naik atau turun?
  6. Apakah kenaikan biaya sebanding dengan peningkatan hasil produksi?
  7. Berapa margin yang sebenarnya diperoleh?

Dengan tujuh pertanyaan tersebut, evaluasi bisnis menjadi jauh lebih terarah.

Baca artikel : data keuangan usaha peternakan yg harys dipantau


Kapan Peternakan Membutuhkan Software Akuntansi?

Tidak harus menunggu bisnis menjadi sangat besar.

Jika transaksi sudah semakin banyak, stok sulit dikontrol, modal produksi sulit dihitung, atau owner mulai kesulitan mengetahui keuntungan sebenarnya, sudah saatnya mempertimbangkan sistem pencatatan yang lebih terstruktur.

Terlebih jika peternakan memiliki:

  • Beberapa kandang atau lokasi
  • Banyak transaksi pembelian pakan
  • Stok obat dan vitamin
  • Banyak pelanggan
  • Piutang yang perlu dipantau
  • Produksi yang berlangsung terus-menerus
  • Banyak biaya operasional
  • Kebutuhan laporan keuangan rutin

Semakin kompleks bisnisnya, semakin penting data keuangan dan produksi berada dalam sistem yang mudah dipantau.


Kesimpulan

Mengukur efisiensi produksi peternakan tidak cukup hanya dengan melihat apakah produksi meningkat atau omzet bertambah.

Pemilik juga perlu mengetahui berapa modal yang dikeluarkan untuk menghasilkan setiap unit output.

Jika modal per unit terus naik, cari penyebabnya dari pakan, tenaga kerja, obat dan vitamin, operasional kandang, produktivitas, hingga biaya lainnya.

Dengan pencatatan yang terstruktur, pemilik dapat membandingkan modal dengan hasil produksi dan mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki.

Zahir membantu bisnis mengelola transaksi, persediaan, produksi, modal, dan laporan keuangan secara lebih terstruktur sehingga data dapat digunakan sebagai dasar evaluasi dan pengambilan keputusan.

Jangan tunggu margin semakin tipis baru melakukan evaluasi. Mulai ukur biaya per unit sejak sekarang.

Konsultasi Gratis

Ingin mengetahui bagaimana sistem Zahir dapat diterapkan untuk kebutuhan pencatatan dan pengelolaan keuangan bisnis peternakan Anda?

Konsultasi Gratis: 0811-6692-888

Coba Demo Zahir Accounting

Lihat langsung bagaimana Zahir membantu membuat pencatatan bisnis lebih terstruktur.

Download Demo Gratis 14 Hari

E-book Laporan Keuangan Gratis

Ingin belajar membuat laporan keuangan bisnis yang lebih rapi?

Download E-book Laporan Keuangan Gratis

Zahir — Software Akuntansi No. 1 Indonesia.

Kunjungi : https://zahirsoft.com/software-akuntansi-online/ & https://zahirsoft.com/software-akuntansi-distributor/