Bisnis Percetakan Banyak Pesanan tapi Laba Tidak Terlihat? Cek Biaya Produksi per Order
Pesanan masuk setiap hari, mesin terus berjalan, bahan baku terus dibeli, tetapi ketika melihat laporan keuangan, laba bisnis percetakan terasa tidak sebanding dengan banyaknya order.
Pernah mengalami kondisi seperti ini?
Masalahnya belum tentu karena harga jual terlalu murah. Bisa jadi ada biaya produksi per order yang belum dihitung secara lengkap.
Dalam bisnis percetakan, satu order bisa melibatkan banyak komponen biaya. Mulai dari kertas, tinta, bahan finishing, tenaga kerja, listrik, penyusutan mesin, hingga biaya tambahan karena revisi atau pekerjaan ulang.
Jika semua biaya tersebut tidak dicatat berdasarkan order, pemilik bisnis akan kesulitan mengetahui apakah sebuah pesanan benar-benar menguntungkan.
Karena itu, jangan hanya melihat berapa omzet dari setiap order. Yang perlu diketahui adalah:
Berapa biaya sebenarnya untuk menyelesaikan order tersebut dan berapa laba yang tersisa?
Kenapa Banyak Order Percetakan Belum Tentu Banyak Laba?
Misalnya sebuah percetakan mendapatkan order cetak brosur senilai Rp10 juta.
Sekilas, nilai tersebut terlihat cukup besar.
Namun setelah dihitung:
- Kertas: Rp3 juta
- Tinta: Rp1 juta
- Finishing: Rp1 juta
- Tenaga kerja: Rp1,5 juta
- Listrik dan biaya mesin: Rp500 ribu
- Biaya pengiriman: Rp500 ribu
- Biaya lainnya: Rp500 ribu
Total biaya mencapai Rp8 juta.
Berarti laba kotor dari order tersebut hanya sekitar Rp2 juta.
Jika ada biaya tambahan seperti revisi desain, cetak ulang karena kesalahan produksi, atau pekerjaan lembur yang belum dimasukkan, laba sebenarnya bisa lebih kecil lagi.
Inilah mengapa jumlah pesanan dan omzet tidak otomatis menunjukkan tingkat keuntungan bisnis.
Apa Saja yang Harus Masuk ke Biaya Produksi Percetakan?
Agar perhitungan laba lebih realistis, perusahaan perlu mengidentifikasi seluruh biaya yang berkaitan dengan proses produksi.
Secara umum, biaya tersebut dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian.
1. Biaya Bahan Baku
Bahan merupakan salah satu komponen utama dalam bisnis percetakan.
Contohnya:
- Kertas
- Tinta
- Toner
- Vinyl
- Banner
- Stiker
- Karton
- Plastik
- Bahan finishing
Harga bahan yang digunakan perlu dikaitkan dengan order yang dikerjakan.
Jangan hanya melihat berapa banyak bahan yang dibeli. Yang lebih penting adalah mengetahui berapa banyak bahan yang benar-benar digunakan untuk menghasilkan suatu pesanan.
2. Biaya Tenaga Kerja
Order dengan nilai Rp10 juta bisa membutuhkan waktu produksi yang berbeda dengan order lain yang nilainya sama.
Misalnya:
Order A membutuhkan 5 jam kerja.
Order B membutuhkan 20 jam kerja.
Jika harga jual keduanya hampir sama, order B belum tentu lebih menguntungkan.
Karena itu, tenaga kerja juga perlu diperhitungkan sebagai bagian dari biaya produksi.
3. Biaya Mesin dan Produksi
Mesin percetakan membutuhkan listrik, perawatan, suku cadang, dan pada akhirnya mengalami penyusutan.
Biaya tersebut memang tidak selalu terlihat dalam setiap transaksi, tetapi tetap menjadi bagian dari biaya menjalankan produksi.
Jika biaya mesin tidak diperhitungkan sama sekali, harga jual dapat terlihat menguntungkan padahal margin sebenarnya lebih kecil.
4. Biaya Finishing
Pada beberapa order, proses cetak bukan tahap terakhir.
Ada pekerjaan:
- Potong
- Laminasi
- Jilid
- Lipat
- Packing
- Cutting
- Finishing lainnya
Biaya tersebut sebaiknya diperhitungkan dalam biaya order agar pemilik mengetahui total biaya sebenarnya.
5. Biaya Pengiriman dan Biaya Tambahan
Pengiriman juga dapat memengaruhi profit.
Terutama jika perusahaan memberikan layanan antar tanpa memperhitungkan biaya tersebut ke harga jual.
Hal yang sama berlaku untuk biaya revisi, cetak ulang, lembur, atau pekerjaan tambahan yang terjadi selama proses pengerjaan.
Cara Menghitung Biaya Produksi Percetakan per Order
Cara paling sederhana adalah mengumpulkan seluruh biaya yang berkaitan dengan satu pesanan.
Rumus sederhananya:
Total Biaya Order = Bahan + Tenaga Kerja + Overhead + Finishing + Biaya Tambahan
Kemudian:
Laba Order = Harga Jual − Total Biaya Order
Contohnya:
Harga jual order: Rp20 juta
Biaya:
- Bahan: Rp7 juta
- Tenaga kerja: Rp3 juta
- Finishing: Rp2 juta
- Overhead: Rp1 juta
- Pengiriman: Rp500 ribu
Total biaya: Rp13,5 juta
Maka laba order:
Rp20 juta − Rp13,5 juta = Rp6,5 juta
Dari sini pemilik bisnis dapat melihat margin secara lebih realistis.
Masalahnya: Bagaimana Jika Order Sudah Puluhan Setiap Bulan?
Di sinilah pencatatan manual mulai menjadi tantangan.
Bayangkan dalam satu bulan terdapat 100 order.
Setiap order memiliki:
- Jenis produk berbeda
- Jumlah berbeda
- Bahan berbeda
- Harga berbeda
- Waktu pengerjaan berbeda
- Biaya finishing berbeda
Jika semua dihitung menggunakan spreadsheet secara manual, staf keuangan harus mengumpulkan data dari berbagai sumber.
Akibatnya, bisa muncul masalah seperti:
- Ada biaya yang lupa dimasukkan
- Pemakaian bahan tidak sesuai catatan
- Biaya lembur tidak dialokasikan
- Biaya finishing terlewat
- Harga jual tidak mencerminkan biaya aktual
- Margin setiap order sulit dibandingkan
Semakin banyak order, semakin sulit mempertahankan pencatatan manual secara konsisten.
Jangan Menentukan Harga Bisnis Percetakan Hanya Berdasarkan Harga Kompetitor
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan bisnis percetakan adalah menentukan harga dengan melihat harga pasar.
Misalnya pesaing menawarkan harga Rp8 juta.
Akhirnya perusahaan ikut menawarkan Rp8 juta agar mendapatkan order.
Padahal biaya produksinya mungkin Rp7,5 juta.
Margin hanya Rp500 ribu.
Jika kemudian ada revisi, bahan terbuang, atau cetak ulang, margin tersebut bisa habis.
Harga kompetitor memang penting sebagai referensi pasar, tetapi harga jual sebaiknya tetap mempertimbangkan biaya produksi perusahaan sendiri.
Dengan mengetahui biaya per order, perusahaan dapat menentukan harga berdasarkan data.
Gunakan Sistem Akuntansi untuk Mengontrol Biaya Produksi Percetakan
Ketika bisnis semakin berkembang, perusahaan membutuhkan sistem yang dapat menghubungkan transaksi penjualan, pembelian, persediaan, produksi, dan laporan keuangan.
Zahir menyediakan solusi akuntansi yang mencakup pengelolaan produksi, persediaan, transaksi, proyek, serta laporan keuangan.
Untuk bisnis percetakan, sistem seperti ini dapat membantu membuat pencatatan lebih terstruktur.
Tujuannya bukan hanya agar laporan terlihat rapi.
Yang lebih penting adalah agar pemilik bisnis dapat menjawab pertanyaan:
“Order mana yang menghasilkan laba dan order mana yang marginnya terlalu tipis?”
Bagaimana Zahir Membantu Bisnis Percetakan?
Berikut beberapa area yang dapat dibantu dengan sistem Zahir accounting.
1. Mencatat Bahan dan Persediaan
Bahan percetakan yang masuk dan digunakan perlu tercatat dengan baik.
Dengan pengelolaan persediaan yang lebih terstruktur, perusahaan dapat memantau penggunaan bahan dan nilai persediaan.
Ini penting karena kesalahan pencatatan stok dapat memengaruhi perhitungan biaya dan laba.
2. Mengelola Proses Produksi
Jika proses produksi dicatat dalam sistem, perusahaan dapat menghubungkan penggunaan bahan dan proses produksi dengan hasil yang dikerjakan.
Zahir accounting memiliki kemampuan yang berkaitan dengan modul produksi dan perhitungan biaya produksi.
Dengan data tersebut, evaluasi biaya produksi dapat dilakukan berdasarkan informasi yang lebih terstruktur dibandingkan hanya mengandalkan catatan manual.
3. Memantau Biaya Produksi
Biaya produksi bukan hanya bahan.
Perusahaan juga perlu memperhatikan tenaga kerja dan overhead.
Dengan pencatatan biaya yang lebih terstruktur, manajemen dapat mengevaluasi komponen biaya mana yang paling banyak memengaruhi margin.
Ini penting ketika biaya produksi mulai meningkat tetapi harga jual sulit dinaikkan.
4. Membantu Menyusun Laporan Keuangan
Semua transaksi yang dicatat dengan baik pada akhirnya akan menjadi dasar laporan keuangan.
Pemilik dapat menggunakan laporan tersebut untuk melihat:
- Pendapatan
- Beban
- Persediaan
- Piutang
- Hutang
- Laba rugi
- Arus kas
Dengan demikian, keputusan bisnis tidak hanya berdasarkan jumlah order, tetapi berdasarkan kondisi keuangan yang tercatat.
Baca artikel : Laporan keuangan bisnis jasa
Cek Margin Bisnis Percetakan Setiap Order Secara Berkala
Tidak cukup hanya menghitung biaya ketika harga jual ditentukan.
Perusahaan sebaiknya melakukan evaluasi secara berkala.
Misalnya setiap akhir bulan, kelompokkan order berdasarkan jenisnya:
Cetak brosur
Margin rata-rata: 18%
Banner
Margin rata-rata: 25%
Kemasan
Margin rata-rata: 12%
Stiker
Margin rata-rata: 30%
Data seperti ini memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai produk atau jenis pekerjaan yang memberikan kontribusi margin lebih besar.
Namun, jangan langsung menganggap produk dengan margin terbesar sebagai yang paling menguntungkan. Perhatikan juga volume order, waktu pengerjaan, kapasitas mesin, penggunaan tenaga kerja, dan biaya lainnya.
Waspadai Order yang Terlihat Besar tetapi Margin Tipis
Order besar memang menarik.
Namun, order dengan nilai Rp100 juta tidak otomatis lebih baik daripada order Rp30 juta.
Jika order Rp100 juta membutuhkan biaya Rp95 juta, laba hanya Rp5 juta.
Sementara order Rp30 juta mungkin membutuhkan biaya Rp18 juta dan menghasilkan laba Rp12 juta.
Artinya, perusahaan perlu melihat margin dan biaya, bukan hanya nominal penjualan.
Inilah alasan kontrol biaya produksi menjadi bagian penting dalam pengelolaan bisnis percetakan.
Bagaimana Jika Biaya Produksi Percetakan Ternyata Lebih Besar dari Perkiraan?
Jika setelah evaluasi ditemukan bahwa biaya produksi terlalu tinggi, jangan langsung menaikkan harga.
Cari sumber masalahnya terlebih dahulu.
Periksa:
- Apakah bahan terlalu banyak terbuang?
- Apakah harga bahan baku meningkat?
- Apakah mesin sering berhenti?
- Apakah pekerjaan ulang terlalu banyak?
- Apakah lembur terlalu tinggi?
- Apakah biaya finishing tidak masuk ke harga?
- Apakah biaya pengiriman ditanggung perusahaan?
- Apakah ada diskon yang terlalu besar?
Dengan mengetahui penyebabnya, perusahaan dapat menentukan solusi yang lebih tepat.
Dari Banyak Order Menjadi Banyak Laba
Bisnis percetakan yang sehat bukan hanya bisnis yang mampu mendapatkan banyak pesanan.
Bisnis yang sehat adalah bisnis yang mengetahui berapa biaya untuk menghasilkan setiap pesanan dan berapa laba yang diperoleh setelah biaya tersebut diperhitungkan.
Karena itu, mulai ubah cara melihat bisnis.
Jangan hanya bertanya:
“Bulan ini dapat berapa order?”
Tambahkan pertanyaan:
“Dari semua order tersebut, berapa laba yang benar-benar dihasilkan?”
Dengan pencatatan biaya produksi yang lebih terstruktur, pemilik dapat mengetahui sumber kebocoran margin, mengevaluasi harga jual, mengontrol penggunaan bahan, dan mengambil keputusan berdasarkan data.
Zahir dapat membantu bisnis mengintegrasikan pencatatan transaksi, persediaan, produksi, dan laporan keuangan sehingga informasi keuangan lebih mudah digunakan untuk pengendalian bisnis.
Baca artikel : cara mengontrol kredit agar piutang tidak menumpuk
Kesimpulan
Banyak pesanan tidak selalu berarti laba besar.
Dalam bisnis percetakan, margin dapat tergerus oleh bahan yang terbuang, tenaga kerja, finishing, listrik, perawatan mesin, pengiriman, hingga pekerjaan ulang yang tidak diperhitungkan sejak awal.
Karena itu, biaya produksi per order perlu diketahui dengan lebih jelas.
Dengan mengetahui biaya sebenarnya, perusahaan dapat:
- Menentukan harga jual dengan lebih tepat
- Mengetahui laba setiap order
- Mengontrol pemborosan bahan
- Mengevaluasi biaya tenaga kerja
- Mengendalikan overhead
- Mengetahui order dengan margin rendah
- Membuat keputusan bisnis berdasarkan data
Jika saat ini pencatatan biaya produksi masih dilakukan secara manual atau Anda kesulitan mengetahui laba sebenarnya dari setiap order, Zahir dapat menjadi solusi untuk membantu menata pencatatan produksi dan keuangan bisnis Anda.
Konsultasi Gratis
Ingin mengetahui apakah Zahir sesuai untuk kebutuhan bisnis percetakan Anda?
WhatsApp: 08116692888
Coba Demo Zahir Accounting : Download Demo Gratis 14 Hari
Lihat langsung bagaimana sistem dapat membantu mengelola transaksi dan laporan keuangan bisnis Anda.
E-book Laporan Keuangan Gratis : Download Free
Kunjungi website zahir : https://zahirsoft.com/software-akuntansi-jasa/
& https://zahirsoft.com/software-akuntansi-2/
Pelajari cara mengelola laporan keuangan dengan lebih rapi agar bisnis tidak hanya ramai order, tetapi juga semakin terukur labanya.