Punya Banyak Outlet tapi Sulit Tahu Mana yang Paling Untung? Begini Cara Mengeceknya
Memiliki beberapa outlet adalah tanda bisnis berkembang. Penjualan bertambah, pelanggan semakin banyak, dan peluang untuk memperbesar bisnis juga semakin terbuka. Namun, semakin banyak cabang yang dimiliki, semakin sulit pula menjawab satu pertanyaan penting:
“Sebenarnya outlet mana yang paling menguntungkan?”
Banyak pemilik bisnis hanya melihat omzet. Outlet dengan penjualan Rp500 juta dianggap lebih bagus daripada cabang dengan penjualan Rp300 juta.
Padahal, omzet besar belum tentu berarti laba besar. Outlet dengan omzet Rp500 juta bisa saja memiliki biaya sewa, tenaga kerja, bahan baku, diskon, dan biaya operasional yang jauh lebih tinggi. Sementara cabang dengan omzet Rp300 juta justru menghasilkan laba yang lebih sehat.
Karena itu, bisnis multi-outlet membutuhkan cara yang lebih tepat untuk mengukur kinerja setiap lokasi.
Mengapa Omzet Saja Tidak Cukup?
Omzet hanya menunjukkan nilai penjualan. Angka tersebut belum memperlihatkan berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan penjualan tersebut.
Misalnya sebuah bisnis F&B memiliki tiga outlet:
- cabang A: omzet Rp500 juta
- cabang B: omzet Rp420 juta
- cabang C: omzet Rp350 juta
Jika hanya melihat penjualan, cabang A terlihat paling unggul.
Namun setelah dihitung:
| Outlet | Omzet | Total Biaya | Laba |
|---|---|---|---|
| A | Rp500 juta | Rp460 juta | Rp40 juta |
| B | Rp420 juta | Rp330 juta | Rp90 juta |
| C | Rp350 juta | Rp270 juta | Rp80 juta |
Dari contoh tersebut, terlihat bahwa omzet terbesar tidak otomatis menghasilkan laba terbesar.
Inilah alasan pemilik bisnis perlu melihat profit setiap outlet, bukan sekadar total penjualan.
Apa Saja yang Perlu Dibandingkan Antar Outlet?
Agar dapat mengetahui kondisi sebenarnya, jangan hanya membandingkan omzet. Setidaknya ada beberapa indikator yang perlu dipantau.
1. Penjualan Bersih
Mulailah dari penjualan bersih masing-masing outlet. Perhatikan apakah penjualan berasal dari dine-in, takeaway, delivery, marketplace makanan, catering, atau kanal lainnya.
Jangan hanya melihat total transaksi. Perhatikan juga tren penjualan dari bulan ke bulan.
Pertanyaan yang perlu dijawab:
- Outlet mana yang penjualannya paling tinggi?
- Cabang mana yang pertumbuhannya paling cepat?
- Apakah penjualan meningkat karena jumlah transaksi atau hanya karena harga jual?
- Apakah promo memberikan tambahan penjualan atau justru mengurangi margin?
Data tersebut menjadi dasar untuk mengevaluasi performa outlet.
2. HPP atau Food Cost
Setelah mengetahui penjualan, lihat berapa biaya bahan baku yang digunakan.
Dalam bisnis F&B, HPP menjadi komponen penting karena bahan baku terus bergerak dan harganya dapat berubah.
Jika dua cabang memiliki omzet yang hampir sama tetapi HPP-nya berbeda jauh, tentu perlu dilakukan pemeriksaan.
Misalnya:
- Cabang A memiliki HPP 32% dari penjualan.
- Cabang B memiliki HPP 40% dari penjualan.
Perbedaan tersebut dapat berasal dari harga pembelian bahan, penggunaan bahan yang tidak efisien, porsi yang tidak konsisten, waste, atau pencatatan stok yang belum akurat.
Dengan mengetahui HPP setiap outlet, pemilik bisnis dapat lebih cepat menemukan sumber masalah.
3. Biaya Operasional
Jangan berhenti pada HPP. Hitung juga biaya yang dikeluarkan oleh masing-masing cabang, seperti:
- Gaji dan tunjangan karyawan
- Sewa tempat
- Listrik dan air
- Biaya internet
- Biaya marketing
- Biaya platform delivery
- Biaya perawatan
- Biaya perlengkapan
- Biaya operasional lainnya
Outlet dengan penjualan tinggi tetapi biaya operasional terlalu besar bisa menghasilkan laba yang lebih kecil.
Karena itu, biaya perlu dicatat berdasarkan cabang agar manajemen dapat mengetahui lokasi mana yang efisien dan mana yang perlu dievaluasi.
Cara Menghitung Profit Setiap Outlet
Secara sederhana, Anda dapat menggunakan alur:
Penjualan Bersih − HPP = Laba Kotor
Kemudian:
Laba Kotor − Biaya Operasional = Laba Bersih
Contohnya:
Outlet A:
- Penjualan bersih: Rp500 juta
- HPP: Rp175 juta
- Laba kotor: Rp325 juta
- Biaya operasional: Rp285 juta
- Laba bersih: Rp40 juta
Sementara Outlet B:
- Penjualan bersih: Rp420 juta
- HPP: Rp134 juta
- Laba kotor: Rp286 juta
- Biaya operasional: Rp196 juta
- Laba bersih: Rp90 juta
Dari sini terlihat bahwa cabang B memiliki omzet lebih kecil, tetapi laba bersih lebih besar.
Informasi seperti inilah yang dibutuhkan owner sebelum mengambil keputusan seperti membuka outlet baru, menambah modal, melakukan promosi, atau mengevaluasi outlet tertentu.
Jangan Lupa Membandingkan Margin
Selain laba dalam rupiah, perhatikan juga margin.
Rumus sederhananya:
Margin Laba = Laba Bersih ÷ Penjualan Bersih × 100%
Jika cabang A menghasilkan laba Rp40 juta dari omzet Rp500 juta:
Rp40 juta ÷ Rp500 juta × 100% = 8%
Sedangkan cabang B menghasilkan Rp90 juta dari omzet Rp420 juta:
Rp90 juta ÷ Rp420 juta × 100% = sekitar 21,4%
Outlet B bukan hanya menghasilkan laba lebih besar, tetapi juga memiliki margin yang lebih tinggi.
Dengan demikian, owner dapat melihat dua hal sekaligus:
berapa besar laba yang dihasilkan dan seberapa efisien outlet menghasilkan laba tersebut.
Artikel : cara menghitung food cost di restoran
Periksa Stok dan Bahan Baku Setiap Outlet
Masalah profit tidak selalu berasal dari penjualan. Bisa jadi penjualan sudah bagus, tetapi stok bahan baku banyak terbuang.
Contohnya:
- bahan baku rusak,
- bahan kedaluwarsa,
- penggunaan bahan melebihi standar,
- stok fisik berbeda dengan catatan,
- pembelian terlalu banyak,
- atau pemindahan stok antar cabang tidak tercatat dengan baik.
Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, biaya bisnis akan meningkat dan laba semakin tertekan. Karena itu, evaluasi outlet sebaiknya juga melihat:
stok awal + pembelian − pemakaian = stok akhir
Lakukan pengecekan secara rutin dan bandingkan penggunaan bahan dengan penjualan. Jika satu outlet menggunakan bahan jauh lebih banyak dibanding cabang lain dengan penjualan yang relatif sama, kondisi tersebut perlu ditelusuri.
Jangan Mengandalkan Rekap Excel dari Banyak Outlet
Ketika hanya memiliki satu outlet, pencatatan manual mungkin masih terasa sederhana. Masalah biasanya mulai muncul ketika cabang bertambah.
Setiap cabang memiliki file sendiri. Ada file penjualan, pembelian, stok, kas, biaya operasional, dan laporan lainnya.
Kemudian semua data harus dikumpulkan dan direkap kembali di kantor pusat.
Semakin banyak transaksi, semakin besar kemungkinan terjadi:
- data terlambat masuk,
- angka tidak sinkron,
- transaksi terlewat,
- kesalahan input,
- stok berbeda,
- laporan sulit dibandingkan,
- dan owner harus menunggu rekap sebelum mengetahui kondisi bisnis.
Akibatnya, keputusan bisnis sering dibuat berdasarkan perkiraan, bukan data terbaru.
Baca artikel : cara mengelola stok agar laba tidak tertahan
Gunakan Sistem yang Memisahkan Data Setiap Outlet
Solusi yang lebih terstruktur adalah menggunakan sistem akuntansi yang dapat mengelola transaksi berdasarkan outlet atau cabang. Dengan begitu, data tidak perlu berdiri sendiri-sendiri.
Penjualan, pembelian, persediaan, kas, piutang, biaya, dan transaksi lainnya dapat dicatat secara lebih terstruktur sehingga laporan dapat dianalisis berdasarkan lokasi bisnis.
Untuk bisnis F&B, pendekatan ini penting karena setiap cabang bisa memiliki karakter yang berbeda. Gerai di pusat kota mungkin memiliki omzet tinggi tetapi sewa mahal. Gerai di area perumahan mungkin memiliki omzet lebih rendah tetapi biaya operasional lebih kecil.
Cabang dekat kampus mungkin memiliki volume transaksi tinggi tetapi rata-rata nilai transaksi lebih kecil.
Tanpa pemisahan data, perbedaan tersebut sulit terlihat.
Bagaimana Zahir Membantu Mengontrol Banyak Outlet?
Zahir accounting dapat digunakan untuk membantu bisnis mengelola transaksi dan laporan berdasarkan outlet sehingga pemilik tidak hanya melihat kondisi bisnis secara keseluruhan.
Untuk bisnis F&B, beberapa hal yang dapat menjadi dasar evaluasi antara lain:
Penjualan setiap outlet
Owner dapat melihat performa penjualan masing-masing lokasi dan membandingkannya dengan periode sebelumnya.
HPP dan persediaan
Data persediaan membantu pemilik melihat pergerakan stok dan menghubungkannya dengan transaksi bisnis.
Biaya operasional
Biaya dapat dicatat dengan lebih terstruktur sehingga pengeluaran setiap outlet lebih mudah dievaluasi.
Laporan laba rugi
Laporan laba rugi menjadi dasar untuk mengetahui apakah sebuah gerai benar-benar menghasilkan keuntungan setelah memperhitungkan biaya.
Analisis bisnis secara keseluruhan
Selain melihat outlet satu per satu, manajemen juga membutuhkan gambaran bisnis secara keseluruhan untuk mengetahui kondisi perusahaan setelah seluruh cabang diperhitungkan.
Zahir sendiri menyediakan pengelolaan multi-outlet dengan pemisahan laporan per cabang dan konsolidasi laporan seluruh cabang dalam satu sistem. Untuk bisnis restoran, Zahir juga menjelaskan dukungan terhadap pengelolaan stok bahan baku dan laporan per cabang.
Buat Evaluasi Outlet Secara Rutin
Tidak perlu menunggu akhir tahun untuk mengevaluasi outlet. Buat evaluasi minimal setiap bulan dengan membandingkan:
- Penjualan
- HPP
- Laba kotor
- Biaya operasional
- Laba bersih
- Margin
- Persediaan
- Piutang jika ada
- Arus kas
- Pertumbuhan dibandingkan periode sebelumnya
Dari data tersebut, owner dapat mengelompokkan masalah.
Misalnya:
Omzet turun + biaya tetap tinggi
→ evaluasi penjualan dan biaya gerai.
Omzet naik + laba turun
→ periksa HPP, diskon, waste, dan biaya operasional.
Omzet stabil + HPP naik
→ periksa harga bahan baku, penggunaan bahan, resep, dan stok.
Omzet tinggi + laba rendah
→ periksa efisiensi cabang secara menyeluruh.
Dengan cara tersebut, evaluasi tidak berhenti pada pertanyaan “kenapa omzet turun?”, tetapi masuk ke akar masalah.
Outlet Ramai Belum Tentu Outlet Paling Menguntungkan
Inilah kesalahan yang sering terjadi dalam bisnis multi-outlet.
Owner melihat antrean pelanggan, transaksi ramai, dan omzet tinggi. Kemudian menganggap gerai tersebut sebagai cabang terbaik.
Padahal, ukuran keberhasilan cabang/gerai bukan hanya jumlah penjualan.
Outlet yang sehat adalah outlet yang mampu menghasilkan penjualan dengan biaya yang terkendali dan memberikan kontribusi laba yang baik.
Karena itu, sebelum membuka cabang baru atau menambah modal tertentu, lihat dulu datanya.
Apakah cabang tersebut benar-benar menghasilkan laba?
Apakah marginnya sehat?
Apakah HPP terkendali?
Apakah biaya operasional proporsional?
Apakah stok dan kas sesuai?
Jawaban dari pertanyaan tersebut jauh lebih berguna daripada hanya melihat angka omzet.
Kesimpulan
Memiliki banyak outlet memberikan peluang besar untuk mengembangkan bisnis. Namun, semakin banyak lokasi yang dikelola, semakin penting pula sistem pencatatan dan analisis yang terstruktur.
Jangan hanya melihat cabang dengan omzet terbesar.
Lihat juga HPP, biaya operasional, laba bersih, margin, stok, dan arus kas.
Dengan membandingkan data tersebut secara rutin, owner dapat mengetahui cabang mana yang memberikan kontribusi paling baik, mana yang perlu diperbaiki, serta bagian mana yang menyebabkan laba tergerus.
Zahir membantu bisnis mengelola transaksi dan laporan secara lebih terstruktur sehingga informasi setiap outlet dapat digunakan sebagai dasar evaluasi dan pengambilan keputusan.
Bisnis boleh punya banyak cabang. Tetapi jangan sampai owner tidak tahu gerai mana yang sebenarnya menghasilkan keuntungan.
Ingin mengetahui apakah sistem keuangan bisnis Anda sudah siap mengelola banyak outlet?
Coba Demo Zahir Accounting:
Download Demo Gratis 14 Hari
E-book Laporan Keuangan Gratis:
Download free E-Book
Kunjungi software akuntansi :https://zahirsoft.com/software-akuntansi-distributor/
Dengan data yang lebih rapi, owner tidak perlu lagi menebak outlet mana yang untung. Keputusan bisnis dapat dibuat berdasarkan angka yang benar-benar terjadi.